They don’t need math to eat.

06:33 0 Comments

Jangan pernah beranggapan kalo tempat makan "all you can eat" itu cuma ada di Jakarta!, di Morowali yang tempatnya terpencil gini juga ada, malah lebih banyak lagi. Semua tempat makan disini "all you can eat", maksudnya mau makan sebanyak apapun dan apapun menunya harganya ya segitu-gitu juga. Semua serba dipukul rata jadi Rp.30.000 per orang.

Gue baru sadar waktu perhatiin bon makan gue tiga hari belakangan ini. Angka totalnya selalu sama, Rp 90 ribu (kebetulan gue kalo makan selalu bertiga bareng tim, jadinya 30 ribu dikali 3 orang. Padahal setiap makan menu sama tempat makannya beda-beda tapi kok harganya segitu-gitu aja. Karena penasaran gue coba nanya harga per porsinya sebelum pesen makanan. Udah ketebak hasilnya, yang punya rumah makan jawabnya gugup campur bingung.

Mungkin matematika bukan mata pelajaran favorit disini. Jadinya orang-orangnya pada males ngitung, termasuk males ngitung harga makanan yang udah dipesen. Semua dipukul rata jadi Rp 30.000 per orang biar ga usah repot ngitung. Kalo di Jakarta kita bisa ngeliat kalkulator ada dimeja kasir rumah makan, disini sih meja kasirnya "bersih".
Beda daerah, beda juga kebiasaannya.

"Apapun makanannya, bayarnya 30 ribu"

Seharusnya gue gak perlu protes, kan uang makannya dibayarin kantor ?


arif kamaluddin
Sony Ericsson P990i

Super-over-loaded

15:09 0 Comments

Tidak seperti komputer, otak manusia sangat terbatas dalam mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus pada saat yang bersamaan. Dua atau tiga tugas yang dikerjakan pada satu waktu akan mengurangi kualitas pekerjaan yang dihasilkan.

Hari ini saya dijejali tugas-tugas yang sama sekali tak berhubungan. Pikiran saya seperti channel televisi yang berpindah-pindah dengan cepat. Lima menit yang lalu channel A, lalu lima menit kemudian channel B, C, D, dan ..... mungkin sampai Z. Jika otak saya beroperasi pada prosesor DualCore mungkin akan terasa lebih mudah. Tapi sayangnya tidak demikian. Pergantian objek berpikir yang terlalu cepat dan mendadak membuat fokus saya berserakan dimana-mana.

Waktu sepertinya sedang berlari ketika kita tenggelam dalam ratusan pekerjaan, sementara kita menginginkannya lebih lambat berjalan, sehingga setiap tugas yang harus diselesaikan akan bisa diselesaikan hari ini tanpa menunggu esok.

Pekerjaan memang masih bisa dilanjutkan dirumah. Tapi rumah dan kantor adalah dua tempat yang berbeda. Bolehlah berbaku hantam dengan dokumen-dokumen dikantor, tetapi tidak dirumah. Rumah bagi saya bukan sekedar tempat beristirahat bagi fisik, tetapi lebih dari itu.

Ya... cukup ceramahnya!

Betapapun saya mengagung-agungkan rumah sebagai tempat beristirahat tetapi kenyataannya hari ini saya membawa pulang sisa pekerjaan yang tadi belum terselesaikan dikantor karena besok pagi segalanya harus sudah selesai. Tidak ada waktu tambahan seperti halnya pertandingan bulutangkis. Semua harus selesai malam ini... titik.

DULU NGELUH, SEKARANG BERSYUKUR. Life is good, isn't it?

20:38 0 Comments

Kata siapa orang Jakarta demen buru-buru? Buktinya sore ini gue liat orang-orang gak pada ngebut di jalan raya. Semua pada diem, dempet-dempetan, trus lomba kenceng-kencengan suara klakson. Hehe, macet itu namanya. Macet udah jadi sarapan sekaligus makan malem orang Jakarta.

Karena macetnya lumayan parah, akhirnya gue coba ambil jalan ke arah Pulogadung. Baru sampe jalan pemuda, tiba-tiba gue keingetan sama memori masa lalu, masa-masa awal gue terjun ke dunia kerja.

Gue pernah kerja diperusahaan penerbitan skala nasional sebagai internal auditor (tetep ya dari dulu jadi internal auditor?) di kawasan industri pulogadung. Makanya kalo lewat situ gue agak ngerasa gimanaa gituh. Kebayang lagi muka semua temen-temen auditor yang ada 18 orang itu, yang kalo becanda suka lupa norma susila.

Kalo dipikir-pikir, Arip Kamaluddin yang sekarang itu adalah hasil tempaan kantor itu. Gue pernah punya atasan yang mendidik gue abis-abisan disitu, gue dijejelin semua hal tentang internal audit, jadi sekarang gue punya ilmu yang cukup buat "berantem" sama dunia karir yang lebih luas.

Padahal kalo diinget-inget, gaji gue disitu parah banget, uang dinas luar kotanya juga kurang gede, trus fasilitas yang gue dapet minim. Kalo keluar kota lama banget sampe ga inget rumah. Cukup parah lah.

Dulu gue pernah nanya ke diri sendiri... "ngapain gue kerja disitu?". Jawabannya baru gue dapet sekarang. Kalo ada orang yang nanya "kenapa sih lo mau kerja disitu?", gue pasti jawab gini:

"Buat sampe ke titik sekarang ini, gue harus ditempa sekeras-kerasnya, diomelin, dijejelin ilmu sebanyak-banyaknya, dikasih gaji yang ngepas. Jadi waktu Tuhan ngasih gue perusahaan yang jauh lebih gede, kerjaan yang lebih ringan, sama gaji yang lumayan, gue bisa bersyukur dan menikmati apa yang gue punya sekarang ini.

Alhamdulillah, thanks God for giving me a good life..

Enaknya jalan kemana nih?

05:48 0 Comments

Libur tiga hari rasanya lumayan juga. Walaupun laporan audit taun 2009 kemaren belum selesai, tapi masa bodo lah. Sesekali boleh kan gak setia sama pekerjaan. Lagi pengen agak selfish aja. Pengen jalan kemana-mana sendirian. Gak usah dikawal sama temen, sodara, ataupun pacar, cukup gw aja sendiri. It's me and my self, alone.

Maunya sih ke Gramedia matraman. Udah lama ga beli buku (boong, padahal bulan kemaren beli chicken soup. Emang dasar alesan biar jalan-jalan aja). Enaknya beli buku apa ya?
. . . . .

Orang-orang bilang selera buku gw aneh. Sebenernya itu tergantung dari buku gw yang diliat. Kalo kebetulan mereka ngeliat buku yang agak "berat", mereka pasti komentar gini:

"gila, bacaan lo berat banget. Masih muda kok baca yang beginian"

Tapi kalo mereka kebetulan (sekali lagi karena kebetulan) ngeliat buku yang "ringan", mereka cuma komentar:

"membaca nasib lewat tulisan tangan... Ngapain lo baca buku beginian. Mendingan baca yang agak berbobot"

Nah... Sebenernya waktu beli/baca buku gw gak pernah mikirin soal berat atau ringan. Yang penting gue suka isinya, terus suka juga sama harganya. Hihi, maklum deh anak akuntansi. My life is under financial plan i made. So i can save more money to marry a girl, to buy a car, to have my own house, to get an SLR, to buy better notebook, and to get another dreamy things.

Bener kan?

supaya jaket kulit awet

02:10 0 Comments

gw baru baca nih, cara supaya jaket kulit tetep awet. Pake "castor oil" (kalo gak salah buat masak deh), trus diolesin ke seluruh bagian jaket.

Tunda notebooknya deh.

01:58 0 Comments

Seems i need to be patient. My plan to buy a new notebook may be cancelled ("may" means there's still possibility to do the vice versa).

Cash flow bisa terganggu kalau saya masih ngotot beli notebook bulan ini. Tunggu gajian berikutnya aja deh, supaya bisa agak "lega" keuangannya. Lagipula saya masih bingung menentukan antara acer dengan compaq.

Huhh, berarti penugasan audit berikutnya tidak ditemanin dengan notebook baru, masih harus berteman dengan IBM lapuk inventaris kantor yang agak lambat berpikir itu.

I do miss that..

08:59 0 Comments

Akhirnya, setelah tiga minggu di pengasingan tak bertuan *dasar cowo hiperbolis*, saya kembali ke Jakarta. Apa yang paling saya rindukan dari Jakarta? Jawabannya sederhana... sinyal. Tiga minggu hidup dengan sinyal GSM pas-pasan rasanya tersiksa juga. Ditengah perkebunan kelapa sawit, sinyal GSM adalah benda langka. Kalau mau menelepon ke Jakarta, harus lirik sana-sini mencari dan mendekati antena televisi supaya sinyalnya agak kuat. Jangankan internet, untuk menelepon saja rasanya harus berjuang.
...

Sekarang saya sudah di Jakarta lagi. Sinyal GSM bertaburan dimana-mana. Senangnya bertemu kembali dengan peradaban:)

KURANG AJAR, DI KASIH HATI MINTA JANTUNG

03:19 0 Comments

Kadang-kadang perbuatan baik yang kita lakukan untuk orang lain tidak mendapatkan balasan yang serupa, malah justru dimanfaatkan dengan cara yang kurang sopan.

Saya sedang menjalani tugas luar kota dan harus tinggal di tengah perkebunan kelapa sawit yang jaraknya 2 jam perjalanan ke kota terdekat. Jauh dari kehidupan modern. Sinyal GSM sangat lemah disini. Kadang dibutuhkan waktu 15 menit untuk mengirim satu SMS.

Orang-orang tidak pernah bermimpi melihat halaman website disini. Tapi untungnya ponsel saya bisa mengakses internet. Maka saya dengan bebas meminjamkan ponsel saya ke siapa saja yang mau berinternet dengan gratis dan "pelanggan utama" saya adalah teman satu tim saya.

Saat dia sedang butuh internet untuk mengakses email atau facebook, saya persilahkan untuk menggunakan ponsel saya. Itu terjadi setiap hari dan saya tidak merasa keberatan sampai suatu pagi saya mendapatkan ponsel saya berubah posisi dan tempat.

Saya punya kebiasaan untuk mengingat posisi barang-barang saya sebelum tidur. Kebiasaan tersebut ternyata berguna ketika ada seseorang yang menggunakan ponsel saya (tanpa izin) saat saya sedang tidur. Yaitu teman satu tim kerja saya.

Untungnya ponsel saya difasilitasi dengan task manager. Jadi saya bisa mengetahui aktifitas terakhir yang dilakukan dengan ponsel saya. Terlihat jelas sekali apa yang dia lakukan saat saya sedang terlelap.

Dari history, saya bisa tahu kalau dia membuka email pribadi saya dan membacanya. Bahkan dia sempat membuka inbox SMS. Lalu dia login ke account emailnya dan facebook. Di history, namanya tertulis dengan jelas, jadi saya tidak perlu susah-susah mencari pelakunya kan?

Saya sih tidak keberatan meminjamkan ponsel saya andai dia meminta izin terlebih dahulu dan tidak melanggar "wilayah pribadi" saya. Karena dengan meminta izin berarti dia masih menghormati niat baik saya.

. . . . .

Sekarang saya mengaktifkan fasilitas security lock. Jadi tidak sembarang orang bisa menggunakan ponsel saya.

Kesel!!!

Belum kangen rumah

07:40 0 Comments

Saya tidak tahu persis dimana saya berada. Ada ditengah perkebunan kelapa sawit yang luasnya berhektar-hektar, tentu saja membuat kita sedikit disorientasi. Tidak jelas letak administratif saya. Mau sebut nama kota pun bingung, karena untuk ke kota terdekat (lubuk linggau) saja membutuhkan waktu 1 jam perjalanan.

Walaupun jauh dari "pusat peradaban", tetapi semuanya terasa nyaman atau lebih tepatnya dikondisikan senyaman mungkin. Kamar tidur yang bersih dan nyaman, makanan yang selalu tersedia, saluran televisi yang lengkap. Fasilitas yang lumayan ditengah rimbunnya kebun sawit.

Berdasarkan pengalaman, biasanya butuh waktu 2 saya kangen Jakarta. Artinya 4 hari lagi saya akan menderita karena home sick. Kangen macetnya, panasnya, suara klakson yang ribut di pagi hari. Apapun yang beraroma kampung halaman akan menambah derita.

Banyak orang yang mengeluh tinggal di Jakarta. Karena macetnya, egoisnya, sesak-sempitnya. Tapi lain bagi orang yang sering bepergian keluar kota. Hiruk pikuk kota besar adalah sesuatu yang dirindukan. Mudahnya mengakses pusat-pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan dan hiburan adalah kelebihan tinggal di kota besar seperti Jakarta.
. . . . .

Masih 13 hari lagi. Saya mulai terbiasa dengan pekerjaan ini. Sedikit bisa membaca ritme dan alur kerjanya. Meskipun saya sudah punya pengalaman sebagai internal auditor di dua perusahaan sebelumnya, tapi kali ini sungguh berbeda. Ada beberapa budaya korporat yang saya belum mengerti. Saya akan berusaha sebaik mungkin.

Sekarang tinggal memikirkan caranya supaya bisa pulang ke rumah sebelum tahun baru.

Cuma ada sawit, karet, dan rumah panggung

13:33 0 Comments

Dalam perjalanan dari palembang menuju muara kandis.

Tidak banyak yang bisa dilihat. Cuma pemandangan yang berganti-ganti antara hutan karet, kebun sawit, dan deretan rumah panggung.

Saya tidak bisa membayangkan jika harus tinggal disini. Tidak ada minimarket dekat rumah, siaran radio yang bisanya cuma memutar lagu-lagu disko remix ala pantura, jaringan internet yang payah, dan tidak ada yang menjual DVD bajakan.

Dasar orang Jakarta...
. . . . .

Perjalanan dari Palembang ke Muara kandis memakan waktu 5 jam. Itu artinya saya harus duduk di mobil dan mendengarkan lagu "disko remix pantura" yang diputar pak supir. Parahnya saya lupa membeli cemilan yang bisa membuat mulut sedikit sibuk, cuma ada sekantung permen rasa mint-lemon yang saya makan seperti makan kacang kulit.

Hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah tidur.
Then i told to my self:
"Have nice sleep kid!"