Selasa, 31 Agustus 2010

Bukit Rudal

BUKIT RUDAL


"Kita ke bukit rudal pak" ajak seorang kepala asisten perkebunan. Kata "bukit rudal" sedikit membuatku bingung. Ternyata itu adalah sebutan untuk bukit laterit tertinggi di perkebunan ini. Kepala asisten tersebut lalu menjelaskan bahwa di atas bukit itu ada sebuah gubuk kecil yang bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.

Tanpa banyak pikir lagi langsung kuiyakan ajakannya. Karena siang itu memang melelahkan. Setelah tiba diatas bukit, dapat kulihat sebuah gubuk sederhana tapi kokoh yang dibuat dari kayu-kayu berserat tebal.

"Di sini sinyalnya kenceng lho" kata seorang asisten kebun yang ikut bersama kami. Benar saja, kukeluarkan handphone dari saku celana dan kulihat indikator sinyal terisi penuh. Sinyal adalah "barang langka" ditengah perkebunan seperti ini. Kumanfaatkan saat-saat seperti ini untuk menelepon beberapa orang di Jakarta, menengok Facebook, dan tentu saja membaca beberapa postingan teman-teman di Multiply.

Banyak yang kami bicarakan disana, bukan soal pekerjaan, cuma kelakar-kelakar ringan yang sesekali mengundang tawa renyah. Aku tidak terlalu menyimak apa yang sedang dibicarakan karena terlalu asyik menikmati angin yang bertiup perlahan dari arah timur bukit. Sebuah pengalaman menakjubkan yang tidak bisa dipertukarkan.

Kulihat jam tangan sedang menunjuk pukul 15:00. Sudah saatnya kembali bekerja. Kuajak kepala asisten yang mendampingiku untuk kembali ke lahan yang sedang diolah. Dengan menggunakan jeep berkabin ganda kami menuruni bukit, menelusuri jalan berkelok-kelok, dan tiba bukit lainnya untuk sekedar melihat susunan terasering-terasering.

Entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan kesepian seperti sedang sendirian. Disekelilingku memang banyak orang, tapi mereka bukan siapa-siapa. Cuma orang yang kukenal karena hubungan pekerjaan. Tidak ada yang bisa menjamin ketulusan sikap bersahabat mereka kepadakau. Entah itu datang dari perasaan yang tulus atau karena aku adalah auditor yang sedang ditugaskan melakukan pemeriksaan.

Disaat orang lain sedang asyik berkumpul dengan keluarga atau teman-temannya, aku sedang berada jauh dari rumah, berjalan diatas bukit laterit yang kasar dan berwarna merah, dibawah matahari yang panasnya sampai menembus sepatu boot yang kupakai.

Haus luar biasa. Puasa mencegahku meneguk setetes air pun, maka kubiarkan kerongkongan ini dalam keadaan kering hingga akhir fajar nanti.

0 comments:

Poskan Komentar