Selasa, 03 Agustus 2010

KAGUMNYA PUDAR KARENA ILMU PENGETAHUAN

Saya tidak bisa ingat dengan jelas kapan terakhir kali melihat pelangi. Mungkin karena sebagian besar waktu dihabiskan dalam ruangan. Untungnya siang ini saya diberi kesempatan untuk melihat busur berwarna itu lagi. Pelangi itu melintang diatas bangunan pabrik. Susunan warna dan bentuknya masih sama, yang berubah cuma rasa kagumnya.

Kalau saja ilmu fisika dasar waktu SMA dulu tidak mengajarkan tentang bagaimana pelangi terbentuk, pasti rasa kagum saya masih sama besarnya seperti ketika masih anak-anak dulu. Percaya kalau pelangi adalah tangga bagi para malaikat dan bidadari untuk turun ke bumi seperti diceritakan dalam dongeng Joko Tingkir. Hingga akhirnya membuat saya penasaran di belahan bumi mana ujung busur pelangi itu menancap. Belakangan saya tahu itu semua salah.

Sekarang buat saya pelangi cuma pecahan spektrum cahaya matahari yang terbentuk ketika cahayanya menembus butiran air hujan. Warna putih itu lantas terbelah menjadi tujuh cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda derajatnya. Maka kemudian lahirlah tujuh warna yang lebih mudah diingat lewat akronim MEJIKUHIBINIU.
...

Apa yang saya rasakan sekarang tidak jauh berbeda seperti ketika masih sekolah dulu, saat sedang menyoroti sebuah prisma bening dengan cahaya lampu senter di laboratorium sekolah yang bau karbol dan penuh dengan barisan tabung erlenmeyer. Tidak jelas apa rasanya, yang jelas bukan kagum.

Setelah pelangi, entah berikutnya apalagi...

0 comments:

Poskan Komentar