Karena sudah terlanjur dicap sebagai agama teroris, maka yang diteriakkan Jalaluddin Rumi, .ansyur Al-hallaj, Hazrat inayat khan, dan bapak-bapak Sufi lainnya terasa sia-sia. Percuma 'ngoceh' soal konsep Tuhan tanpa nama, persamaan manusia dimata Tuhan, dan penyatuan antara Tuhan dan Manusia kalau yang dipahami dari ajaran yang dibawa oleh Muhammad ini cuma soal perangnya saja.
Muhammad sendiri bukan orang yang 'hobi' berperang. Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Muhammad memberi peringatan kepada pasukannya agar tidak membunuh wanita, anak-anak, orang berusia lanjut, tidak membakar rumah, dan merusak tanaman. Kerusakan yang timbul akibat perang harus diusahakan sekecil mungkin. Itu dulu... Sekarang para "pengikut" ajarannya yang 'ngelantur' itu malah merusak dan membunuh semuanya tanpa pilih-pilih dan alasan yang jelas. Hasilnya sekarang banyak yang menganggap muslim sebagai penganut ajaran terorisme gara-gara ulah segelintir orang yang hobi ngebom.
Sufisme, yang mengajarkan islam secara murni dan utuh, juga mulai disalah pahami. Konsep utamanya tentang penyatuan antara hamba dengan Tuhannya dan tentang Tuhan yang -sesungguhnya- tidak beragama dianggap sebagai ajaran yang salah. Padahal ajaran sufisme itulah yang bisa diharapkan untuk menjernihkan kembali pandangan tentang islam.
Dalam ajaran para sufi, tidak pernah diucapkan soal surga-neraka, dosa-pahala, dan kewajiban membunuh 'kafir' dalam perang. Cuma diajarkan untuk memandang semua makhluk sebagai satu kesatuan, memusnahkan hasrat duniawi, dan melebur diri dalam Tuhan. Ajaran itu akan memudar perlahan seiring dengan semakin banyaknya muslim yang menganggap kekerasan sebagai jalan untuk menegaskan eksistensi agamanya.
0 comments:
Poskan Komentar